Apa Saja sih Khasiat dari Salawat Kamaliyah?
Seperti yang telah diketahui, bersalawat pada Nabi Muhammad saw. akan mendapat dan mendatangkan rahmat serta berbagai kebaikan lainnya. Ada banyak sekali macam salawat yang ditunjukan untuk Rasulullah, dan masing-masing memiliki banyak keutamaan. Salah satunya ialah salawat kamaliyah. Berikut pelafalannya:
اللَّهُمَّ وَ سَلَّمَ وَ بَارَكَ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلِيِّ آلِهِ عَدَدَ كَمَالِ اللَّهِ وَ كَمَا يَلِيقُ بِكَمَالِهِ
Redaksi lafaz lainnya:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ كَمَا لَا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَ عَدَدَ كَمَالِهِ
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Baginda Nabi Muḫammad, juga kepada keluarganya sebagaimana kesempurnaan-Mu yang tanpa batas, dan sebanyak bilangan kesempurnaannya."
Selain itu, di antara keutamaan salawat kamaliyah yang dapat disebutkan ada dua: pahalanya dilipatgandakan ratusan ribu kali, serta menolak lupa ingatan.
Pertama, memperoleh pahala ratusan ribu kali lipat. Meskipun lafal salawat kamaliyah terbilang cukup ringkas, tetapi sekali baca saja pahalanya cukup besar. Ada yang mengatakan satu kali baca salawat setara dengan 70.000 kali bersalawat. Ada yang bilang setara 100.000 kali salawat. Bahkan juga ada yang mengatakan 500.000 kali lipat. Syekh Abdul Qadir Al-Jilani atau Muhyiddin Abdul Qadir bin Shalih Al-Jilani (w. 561 H) menjelaskan dalam kitabnya, "As-Safînatul Qâdiriyyah, (Beirut: Dârul Kutub Al-'Ilmiyyah, 2016), hal. 118", sebagai berikut:
ونقل عن بعض العارفين: أن من صلى بهذه الصلاة مرة واحدة عدلت له خمسمائة ألف صلاة وكانت له فداء من النار، وهي: اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله كما لا نهاية لكمالك وعدد كماله
“Dikutip dari sebagian ulama ahli ma’rifat, siapa yang membaca salawat berikut sebanyak satu kali, maka pahalanya setara dengan membaca salawat sebanyak 500.000 kali, dan menjadi tebusan baginya dari api neraka. Redaksi salawat itu adalah 'Allâhumma shalli wasallim wabârik 'alâ sayyidinâ Muḫammadin wa 'alâ âlihi kamâ lâ nihayata likamâlika 'adada kamâlihi'.”
Sementara Syekh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani (w. 1350 H) dalam kitab "Afdhalusshalât 'Alâ Sayyidis Sâdât (Beirut: Dârul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2016), hal. 104" menjelaskan, dalam kitab "Al-Asrâr Ar-Rabbâniyyah Syarhush Shâwî 'alâ Shalawâti Ahmad Ad-Dardir" dijelaskan, salawat dengan redaksi tersebut dinamakan sebagai salawat kamaliyah, dan merupakan salah satu redaksi salawat yang paling mulia. Sebagian ulama mengatakan pahalanya setara dengan membaca 70.000 kali salawat, bahkan juga ada yang mengatakan 100.000 kali.
Kedua, menolah lupa ingatan. Sebagai manusia biasa, tentunya sifat lupa adalah hal wajar, tapi tentu ketajaman ingatan adalah keunggulan tersendiri yang diidamkan banyak orang. Salah satu khasiat salawat kamaliyah adalah mampu menolak lupa ingatan tersebut. Dalam kitab Sa'âdatuddârain dari Syekh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani menjelaskan, salawat kamaliyah yang dinisbatkan pada Nabi Khidir as. ini memiliki khasiat mampu menolak lupa.
Dalam salah satu riwayat dikisahkan sosok Syekh Ali Syibromalisi (w. 1087 H) mengalami kebutaan. Di suatu hari Jum'at sebelum melaksanakan salat, Syekh Ali bertamu ke rumah Syihab Al-Khaffaji. Syekh Ali pun dipersilahkan duduk di sebuah kursi, sementara Syihab duduk di hadapannya dan bertanya pada Syekh Ali perihal persoalan-persoalan pelik. Hebatnya, Syekh Ali mampu menjawab setiap persoalan yang diajukan beserta menyebutkan sumber kitab pengambilannya, lengkap pula dengan sanad-sanadnya.
Pada Jum'at berikutnya, Syekh Ali melakukan hal yang sama. Ia juga ditanyai hal-hal sulit dan menjawabnya dengan menyebutkan rujukan kitab beserta sanad-sanadnya, sebagaimana Jum’at lalu. Kemudian, beliau pun ditanya, mengapa bisa sehabat itu. Padahal ia buta, tapi seperti orang yang mampu melihat dengan baik. Syekh Ali pun menjawab dengan mengungkapkan kisahnya.
Dulu, ia mempunyai seorang kawan setia yang selalu bersama dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, keduanya terpaksa berpisah karena ia memutuskan untuk belajar ilmu ramal (ilmu yang digunakan untuk mengetahui kejadian yang akan datang dengan menggaris di atas pasir, termasuk juga ilmu perbintangan). Dengan kondisi matanya yang buta, hal ini terlalu sulit bagi Syekh Ali.
Ia pun mendatangi gurunya. Menceritakan apa yang sedang terjadi pada dirinya, dan meminta sang guru untuk mengajari ilmu ramal tersebut. Namun, sang guru menolak, menyadari bahwa Syekh Ali tidak mungkin mampu memahami ilmu tersebut, karena untuk memahaminya harus dengan penglihatan. Sementara ia tidak bisa melihat. Syekh Ali pun merasa sangat kecewa. Saking sedihnya, ia mogok makan selama dua hari.
Suatu saat, datanglah seorang laki-laki, lalu berkata, “Tidak apa-apa, wahai Ali.”
Kemudian laki-laki itu menasihatinya dan mengatakan, ilmu ramal tidak baik untuk di dunia maupun akhirat. Jangan sampai bergantung pada ilmu tersebut. Ia lalu menawarkan sebuah amalan sebagai gantinya, dengan syarat Syekh Ali tidak lagi berniat untuk mendalami ilmu ramal.
“Beri aku faedah (amalan) tersebut. Aku berjanji padamu (tidak akan lagi berniat mendalami ilmu ramal),” jawab Syekh Ali dengan mantap.
Laki-laki itu pun memberikan Syekh Ali salawat yang memiliki khasiat untuk menolak lupa. Dengan cara dibaca antara waktu Magrib dan 'Isya tanpa dibatasi bilangan tertentu. Redaksi salawatnya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ كَمَا لَا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَ عَدَدَ كَمَاٰلِهِ
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat pada Baginda Nabi Muḫammad, juga pada keluarganya sebagaimana kesempurnaan-Mu yang tanpa batas, dan sebanyak bilangan kesempurnaannya."
(Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, Sa'âdatuddârain fish Shalâti 'alâ Sayyidil Kaunain, [Beirut, Dârul Kutub Al-'Ilmiyyah: 2012], hal. 306).
Mungkin itu saja yang bisa disebutkan. Sebenarnya, masih banyak lagi keutamaan salawat kamaliyah ini jika ditelisik lebih dalam dari berbagai kitab dan referensi manapun.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufik-Nya, serta menjadikan lisan dan hati kita selalu berzikir juga bersalawat pada Nabi saw dalam segala setuasi dan kondisi di kehidupan sehari-hari.
Wallahu a'lamu bishawab

Komentar
Posting Komentar