Agama dan Depresi: Benarkah Saling Melengkapi?
Dari banyaknya tanggapan orang mengenai depresi, sudah jelas mereka berpikir, "Kamu tak perlu ahli jiwa yang profesional, kamu hanya butuh bantuan Tuhan." Hal ini dirasa menuduh seseorang seperti "orang yang tidak punya iman" sebab curhatnya ke manusia, bukan kepada Penciptanya. Kesannya, pengidap depresi adalah seorang pendosa, dianggap kurang dekat dengan Sang Pencipta.
Pada kali ini yang akan dibahas, apakah benar orang religius tidak butuh psikolog dan kebal terhadap mental health?
Istilah depresi sendiri adalah kondisi di mana mood seseorang secara konsisten merasakan perasaan sedih, hampa, bahkan kehilangan gairah untuk melakukan apapun.
Adapun yang menjadi kata kunci pembeda rasa sedih yang sering terjadi adalah secara konsisten.
Apa peran agama dalam kesehatan mental?
Jawabannya, ada sebuah review riset dari Moreira Almeida, Netto, dan Knith (2006) kepada 850 religiulitas dan kesehatan mental, mereka semua diberi pertanyaan yang sama, "Apa keterlibatan seseorang ke agamanya itu berhubungan dengan keadaan kesehatan mental orang tersebut, dan misalkan iya, hubungannya apa, dan bagaimana?"
Buat kamu yang belum tahu, ternyata riset soal ini sudah banyak sekali. Hasilnya? Orang yang memiliki tingkat religius yang tinggi ternyata punya keadaan psikologis yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang dengan tingkat religiusnya rendah. Selain itu, orang yang memiliki tingkat religius lebih tinggi juga punya lebih sedikit simptom depresi dan lebih rendah menggunakan obat-obatan terlarang.
Lebih jelasnya, kalian bisa baca abstrak publikasinya di sini.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8121972/
Maksud dari penelitian tersebut adalah hubungan antara religiulitas dengan kesehatan mental.
Terdengar sederhana, tapi agak ribet juga. Lebih detailnya, ketika keterlibatan seseorang dalam agama, maka yang akan dibicarakan seberapa besar tanggung jawab dalam menjalankan agama. Bagian ini termasuk ke dalam:
1. Seberapa sering melakukan ibadah/ritual agama?
2. Seberapa penting nilai-nilai agama di hidup?
3. Motif untuk melakukan itu semua agar apa? Benar karena agamanya, atau apa?
Melihat keterlibatannya ke dalam ajaran agama yang dianut, penelitian ini mengikutsertakan dari berbagai agama.
Walaupun hasil penelitiannya iya, yang religiulitasnya tinggi, psikologisnya lebih baik, tapi penelitian ini tidak mengatakan kalau meningkatkan religiulitas akan membuat keadaan psikologi seseorang lebih baik.
Note:
✓Orang yang depresi tidak selalu kurang ibadah, banyak malah orang yang beribadah dengan rajin, bahkan dia terobsesi dengan ibadah itu mengalami depresi, perasaan bersalah, tidak berharga sehingga dia terus-menerus beribadah dan tetap depresi. Dengan begitu, kalau ada orang yang mengatakan, "Oh, kamu depresi karena kurang ibadah, kurang berdoa, atau kurang dekat sama Tuhan." Benar, inilah sesuatu yang menyakitkan.
✓Bagi orang yang mengalami depresi karena mereka menjauh dari Tuhan, depresi sendiri bukan tentang niatnya dekat dengan Tuhan atau tentang komitmennya menjalani ibadah. Bukan itu, depresi sendiri adalah fungsi dari otaknya (keadaan dari otak fungsionalnya mengalami gangguan di dalam otaknya), misalkan kalau Anda sedang sakit gigi terus-menerus akan dikatakan, "Oh, kamu kurang dekat dengan Tuhan, makanya kamu sakit gigi tidak sembuh-sembuh." Kira-kira, apa Anda akan sakit hati atau tidak jika begitu?
✓Tiap hari orang beribadah, bahkan yang dilakukan lebih daripada orang lain, tapi dia di-judgement sakit gigi karena kurang ibadah pasti sakit hati sama dengan orang yang mengatakan itu, tidak selalu dia tak mau beribadah.
✓Depresi bisa disebabkan ia mengalami trauma masa lalunya, atau tidak bisa mengatasi stresnya sehingga hormon kortisol yang terus-menerus aktif bisa membuat otaknya mengalami gangguan fungsional. Sebenarnya, depresi ini lebih kepada fungsional otaknya mengalami gangguan neuro transmitter atau hormon-hormon yang ada dalam otak.
✓Depresi bukanlah tentang "Oh, orang ini alim atau enggak" bahkan ada orang yang mungkin jahat, mungkin melakukan banyak hal melanggar norma, ya mereka seneng-seneng saja. Normal-normal saja tidak mengalami depresi itu ada. Jadi, depresi tidak ada hubungannya dengan orang yang beribadah atau tidak, dia baik atau tidak.
✓Depresi bisa membuat seseorang menerima diri dan kehidupannya lebih baik, akan tetapi perlu diajarkan, dipahami, dan dilatih karena fungsi-fungsi otak yang dilatih itu salah satu medianya dengan beribadah. Pastinya perlu pengarahan, bimbingan daripada menjudge orang yang depresi dengan, "Kamu ini tidak baik, kamu ini kurang bersyukur, dan sebagainya" lebih baik diajarkan bagaimana cara menerima diri dengan baik, menerima diri dengan ikhlas, berpositif thinking.
Begitulah masalah yang terkait dengan agama dan depresi. Lalu, bagaimana menurutmu?
Selamat berpikir.

Komentar
Posting Komentar