Kisah Inspiratif–B.J. Habibie untuk Semua Kalangan, Terutama Kaum Muda nih!
Ternyata, apa yang terjadi dalam hidup B.J. Habibie merupakan sebuah realita yang bisa menimpa siapa saja.
Kita rehat sejenak untuk membaca dan renungkan kembali kisah beliau yang inspiratif berikut ini.
Kehidupan B.J. Habibie kembali ke titik nol. Tidak ada yang dapat dibanggakan. Dulu bangga dengan segala jabatan, baik menjadi seorang direktur maupun bos dalam perusahaan besar.
Ungkapan hati B.J. Habibie, mantan Presiden RI ke-3 terkait persoalan akhirat yang bikin merinding dalam pidatonya (8/1/2019).
Saat Kematian itu Kian Mendekat. Kalau lah Sempat?
Beliau berpesan:
"Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ta'ala dengan ilmu teknologi sehingga bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu, ilmu agama itu lebih bermanfaat bagi umat.Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu agama, berbuat baik dan berbagi rezeki pada orang banyak.Kini hidup saya sepi, istri saya sudah meninggal. Tangan saya menggigil karena lemah. Penyakit menggerogoti saya sejak lama. Duduk tak enak, bahkan berjalan pun tak nyaman.Untunglah seorang kerabat jauh serta seorang pembantu mau tinggal bersama menemani saya.Saya punya tiga anak, semuanya sudah sukses. Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri pula. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri, bekerja di perusahaan asing dengan posisi tertinggi, dan menjadi pengusaha ternama.Kalau soal ekonomi, saya angkat dua jempol, semuanya sudah kaya raya."
Namun, di balik kesuksesan mereka saat tua ini dia merasa hampa, pilu mendesak di sudut hatinya. Tidurnya tak enak.
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa dan penuh enegik yang sekarang menjadi tinggal kenangan.
Di rumah yang besar itu dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi secara teratur. Punggung terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Dari sudut matanya ada air yang menetes, rindu dikunjungi anak-anaknya. Akan tetapi, semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain.
Dia ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan. Sudah terlanjur melemah. Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak sepanjang waktu.
Seseorang yang tua renta itu barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti.
Hanya menunggu, dan ajal akan menjemput.
Rumah yang besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya. Anak-anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber-AC. Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang. Aset-aset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa.
Kira-kira jika Malaikat datang menjemput, akan seperti apakah kematiannya nanti?
Siapa yang akan memandikannya?
Di mana dia akan dikuburkan?
Sempatkah anak yang menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?
Apa amal yang akan dibawanya nanti ke akhirat?
Rumah dan aset akan ditinggalkan. Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuknya atau tidak, sedangkan ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan? Apalagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama, dan ia hanya sebagai sisipan saja.
–Kalau lah sempat menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, rumah yatim, panti asuhan atau ke tempat-tempat lainnya di jalan Allah.
–Kalau lah sempat dulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang.
–Kalau lah sempat memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.
–Kalau lah sempat membelikan buah untuk tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan.
–Kalau lah tidak kikir kepada sesama, pasti semua akan menjadi amal penolongnya.
–Kalau lah dahulu anak disiapkan menjadi orang yang saleh dan ilmu agamanya lebih diutamakan. Ibadah sedekahnya diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan "terbangun malam" untuk meneteskan air mata semata mendoakan orangtuanya.
Kalau lah sempat
Memangnya kenapa kalau itu semua tidak jadi perhatian utama bagi kalangan muda? Sungguh tidak adil pada diri mereka sendiri.
Mengapa tidak lebih serius? Hanya menyiapkan bekal untuk menghadap-Nya dan mempertanggung jawabkan segalanya pada-Nya.
Janganlah terbuai dengan kehidupan dunia yang bisa melalaikan. Boleh-boleh saja giat berusaha di dunia, tetapi jadikanlah sebagai bekal pada perjalanan yang akan dilalui nanti di akhirat.Teruslah menjadi si penabur kebaikan selama hayat masih di kandung badan walau hanya sepotong cerita.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar