Kuatkan Imanmu! Keraguan Adanya Tuhan Memang Nyata di Akhir Zaman


Pernahkah kamu berpikir begini, mengapa seseorang masih ragu dengan keberadaan Tuhan? Tentu hal ini sangat manusiawi. Keraguan dan keinginan untuk berserah bisa muncul bersamaan, karena manusia adalah makhluk yang berpikir dan mencari makna. Bahkan dalam sejarah, banyak orang saleh yang pernah mengalami momen keraguan sebelum menemukan keyakinan yang lebih kuat.

Mengapa seseorang harus menyembah Tuhan? Sebenarnya, pertanyaan ini bukan hanya soal kewajiban, tapi lebih ke hubungan antara pencipta dan ciptaan. Jika Tuhan menciptakan seseorang, memberi kehidupan, dan mengatur alam semesta, maka penyembahan bukan sekadar kewajiban, tapi juga pengakuan atas ketergantungan seseorang kepada-Nya. Seperti halnya seorang anak yang meragukan kasih sayang orangtuanya saat kecil, tapi ketika dewasa dia sadar, segala yang dilakukan orangtuanya adalah bentuk cinta, begitu juga antara manusia dengan Tuhan.

Lalu, di mana Tuhan? Singkatnya, Tuhan tidak terbatas oleh ruang atau waktu, karena konsep "di mana" adalah bagian dari dunia fisik yang diciptakan-Nya. Dalam Islam, Allah lebih dekat dari urat nadi manusia itu sendiri (QS. Qaf: 16). Artinya, bukan soal tempat, tapi soal keberadaan-Nya yang lebih dalam dari sekadar lokasi.

Mengapa harus ada Tuhan di dunia ini? Pertanyaan ini sebenarnya berbalik ke eksistensi diri seseorang sendiri.
✓Jika tidak ada Tuhan, dari mana asal kehidupan?
✓Jika alam semesta ada tanpa pencipta, mengapa ia memiliki aturan yang begitu teratur?

Dalam filsafat, hal ini dikenal sebagai argumen kausalitas (segala sesuatunya pasti ada penyebabnya). Alam semesta ini ada, pastinya ada sebab pertama yang tidak diciptakan—itulah Tuhan.

Bagaimana kalau masih ragu tentang Tuhan? Keraguan bukan berarti tidak beriman. Justru, seseorang yang bertanya, mencari, dan mencoba memahami akan menemukan keyakinan yang lebih kuat dibandingkan orang yang hanya menerima tanpa berpikir. Bahkan Nabi Ibrahim as. pernah bertanya kepada Tuhan tentang bagaimana Dia menghidupkan yang mati.

Jika ingin berserah diri, itu adalah fitrah. Perasaan bahwa ada sesuatu yang lebih besar darinya, tempatnya kembali adalah bagian dari jiwa manusia. Meskipun ada keraguan, selama terus mencari dan tidak menutup diri, Tuhan akan memberikan jawaban-Nya dengan cara yang unik untuk manusia.

Intinya, menanyakan keberadaan Tuhan bukan berarti tidak beriman, padahal tidak ada satu dalil pun yang melarang di mana dan meragukan keberadaan-Nya.

Nabi Ibrahim as. pernah bertanya tentang cara Tuhan menghidupkan yang mati: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Allah berfirman, 'Apakah kamu belum beriman?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah beriman, tetapi agar hatiku menjadi tenang.'" (QS. Al-Baqarah: 260)

Para sahabat pun bertanya banyak hal kepada Nabi saw. Dalam Al-Qur'an, ada banyak ayat yang dimulai dengan "Mereka bertanya kepadamu ...," seperti tentang roh (QS. Al-Isra: 85), bulan sabit (QS. Al-Baqarah: 189). Rasulullah saw. tidak melarang mereka bertanya, melainkan memberikan jawaban sesuai wahyu.

Selain itu, jika bertanya tentang hal yang mustahil dijangkau oleh akal manusia, Nabi saw. pun bersabda: "Manusia akan terus bertanya sampai dikatakan, ‘Allah menciptakan ini, Allah menciptakan itu, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Jika seseorang sampai bertanya demikian, maka katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah.’" (HR. Muslim)

Ini bukan berarti dilarang bertanya, tapi ada batasan. Misalnya, akal manusia tidak bisa memahami bagaimana zat Tuhan, karena Dia berbeda dari semua makhluk-Nya.

Intinya, dilarang bertanya hingga melewati batas kalau bakal menggoyahkan iman sendiri.

Wallahu a'lamu bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif–B.J. Habibie untuk Semua Kalangan, Terutama Kaum Muda nih!

Inilah Profilku: The Writer & Explorer

Bagaimana sih Membuat Kalimat Efektif? Inilah Jawabannya

Sepotong Pesan Abah Guru Sekumpul untuk Para Dai: Utamakan Adab

Astronomi itu Bahas Apa? Cek Selengkapnya