Kisah Inspiratif—Uhud I
Saat itu, Mekah menjadi pusat pertentangan antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy yang menentang ajaran Islam. Perang Uhud pun pecah sebagai bentuk balas dendam kaum Quraisy atas kekalahan mereka sebelumnya dalam Perang Badar.
Pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan berangkat menuju Uhud dengan membawa 3.000 tentara serta beberapa wanita pelayan. Sementara itu, pasukan Muslim terdiri dari 1.000 orang yang merupakan gabungan dari penduduk Mekah juga Madinah.
Namun, di tengah perjalanan menuju Gunung Uhud, Abdullah bin Ubay yang merupakan salah seorang pemimpin bani terbesar Quraisy memilih untuk membelot. Ia membawa serta 300 pasukan Muslimin sehingga pasukan yang tersisa bersama Rasulullah saw. hanya berjumlah 700 orang.
Rasulullah saw. menerima sebuah mimpi terkait perang Uhud dan menceritakannya pada para sahabatnya. Beliau bermimpi mengayunkan pedangnya, tapi tiba-tiba bagian depannya patah, yang ditafsirkannya sebagai tanda kaum Muslimin akan mengalami kekalahan dalam perang tersebut. Tetapi, ketika pedang itu kembali digerakkan, ia kembali utuh. Seperti semula. Menurutnya, ini sebagai isyarat dari Allah swt. akan menganugerahkan kemenangan bagi kaum Muslimin saat penaklukan kota Mekah, dan pada hari berkumpulnya orang-orang yang beriman.
Selain itu, Rasulullah juga melihat seekor sapi dalam keadaan sangat baik, yang ditafsirkan sebagai simbol dari kaum Muslimin dalam perang Uhud. Rasulullah juga mengartikan mimpi tersebut sebagai tanda kekalahan serta banyaknya sahabat yang akan gugur dalam pertempuran.
Dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan: Khalid bin Walid diceritakan, pasukan Muslim tetap maju dengan penuh keyakinan. Bagi mereka, kemenangan atas kaum Quraisy adalah suatu keharusan, terutama perang ini menjadi perang balas dendam mereka atas kekalahan sebelumnya.
Dalam menyusun strategi, Rasulullah menempatkan 50 pasukan pemanah di atas Gunung Uhud. Mereka diperintahkan agar tidak meninggalkan posisi mereka dalam keadaan apapun, khususnya jika pasukan berkuda Quraisy mencoba menyerang (kembali).
Pada awal pertenpuran, pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan mengalami tekanan hebat. Paaukan Muslim berhasil menguasai keadaan dan tampak hampir meraih kemenangan. Namun, ketika para pemanah di atas gunung melihat harta rempasan perang (ghanimah), mereka mulai goyah.
"Harta rampasan! Kita sudah menang! Apalagi yang kita tunggu?" Beberapa dari mereka berteriak kegirangan.
Komandan pasukan pemanah, Abdullah bin Jubair dengan tegasnya, mengingatkan mereka akan pedang (perintah) Rasulullah. Sayangnya, peringatan itu diabaikan dan sebagian besar pasukan pemanah turun ke bukit untuk mengambil harta rampasan.
Situasi ini menjadi celah kuat bagi pasukan Quraisy untuk membalikkan keadaan. Dengan cepat, pasukan berkuda mereka menyerang dari arah belakang, dan membuat pasukan Muslim terdesak serta kehilangan formasi mereka.
Di tengah kekacauan itu, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah, menjadi sasaran Wahsyi, seorang budak. Dengan tombaknya, Wahsyi mengintai dari kejauhan dan melemparkan senjatanya hingga menembus perut Hamzah. Gugurlah Hamzah dalam keadaan syahid.
*Catatan!
Perang Uhud, salah satu pertempuran bersejarah dalam perkembangan Islam, di mana melibatkan antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy. Pertempuran ini terjadi karena konflik yang berkepanjangan antarkedua belah pihak, dengan tujuan agar kaum Quraisy dapat membalaskan dendam mereka atas kekalahannya saat perang sebelumnya, Badar.
Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. menghadapi tantangan besar melawan pasukan Quraisy yang lebih besar jumlahnya dibanding sebelumnya.
Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran hidup (ibrah) yang berharga bagi kaum Muslim terutama mengenai pentingnya strategi, keteguhan iman, dan ketaatan terhadap arahan seorang pemimpin yang baik.
Lanjut part Kisah Inspiratif—Uhud II.
Komentar
Posting Komentar