Kisah Inpiratif—Uhud II
Wahsyi bin Harb, seorang budak asal Habasyah (Etopia) yang bekerja untuk Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Hindun menjanjikan kebebasan pada Wahsyi jika ia berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah saw. sebagai balas dendam atas kematian ayahnya dalam perang Badar.
Pada perang Uhud, dengan keterampilannya melempar tombak, Wahsyi berhasil dan membuat Hamzah syahid. Tindakan ini dilakukan murni untuk kebebasannya, tanpa motivasi pribadi terhadap Hamzah.
Ketika Wahsyi masuk Islam, Rasulullah saw. menerimanya. Namun, karena ingatan tentang Hamzah menyakitkan bagi beliau, Rasulullah saw. meminta Wahsyi agar tidak menampakkan diri di depan beliau, tidak ingin mengingatkannya pada peristiwa tersebut.
Dalam beberapa riwayat, Wahsyi sering mengamati Rasulullah dari kejauhan, berusaha tetap melihat beliau meskipun tidak langsung berada di hadapan beliau. Perasaan Wahsyi yang terombang-ambing antara rasa bersalahnya yang mendalam dan kecintaannya kepada Rasulullah membuatnya memilih untuk tidak terlalu menonjolkan diri, sebagaimana yang diinginkan Rasulullah. Akan tetapi, ketulusan hatinya sebagai seorang yang sudah bertaubat membuatnya tetap rindu untuk melihat sosok Rasulullah, walaupun dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Perasaan cinta Wahsyi kepada Rasulullah terlihat dari upayanya untuk menebus kesalahannya, seperti saat ia berperan dalam membunuh Musailamah Al-Kazzab, salah satu dari nabi palsu, dalam perang Yamamah setelah wafatnya Rasulullah*. Dalam upayanya itu, Wahsyi ingin membuktikan ketulusannya sebagai seorang Muslim, dan berharap menghapus kesalahannya di masa lalu.
*Hal ini terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar bin Shiddiq ra., di mana timbulnya banyak yang keluar dari Islam (murtad), zakat diindahkan, munculnya nabi-nabi palsu setelah penutup para nabi telah tiada.
Semoga terinspirasi.
Komentar
Posting Komentar