8 Jenis Puasa Sunnah Menurut Hadits Yang Sebaiknya Kamu Tahu: Pahalanya Sungguh Dahsyat
Tidak perlu diragukan lagi, selain puasa wajib di bulan Ramadhan, kaum Muslimin pun dianjurkan menjalankan puasa sunnah selama 6 hari di bulan Syawal. Puasa sunnah ini memiliki banyak keutamaan, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadits Qudsi, Allah ta'ala berfirman:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه) رواه ومسلم
"Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu) ...." Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi ...."
Terkait kesunnahan berpuasa, banyak yang masih memperdebatkan, bahkan ada yang meragukan kesunnahan dari puasa tersebut, sehingga cenderung menyalah-nyalahkan orang yang berpuasa dengan niat menjalankan sunnah. Maka, sangat penting untuk mengetahui dan mengadakan studi terhadap hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan puasa-puasa sunnah sehingga kita tidak mudah untuk menyalah-nyalahkan orang lain.
Berikut ini uraian terkait 8 jenis puasa sunnah:
1. Puasa Senin dan Kamis
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:
“Berbagai amalan di hadapan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi no. 747, sahih dilihat dari jalur lainnya)
Juga dari Aisyah ra., beliau mengatakan:
“Rasulullah saw. biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. An-Nasa’i no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739, sahih)
2. Puasa Tiga di Bulan Hijriyah
Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:
“Kekasihku (Rasulullah) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya; 2) Mengerjakan salat Dhuha,;3) Mengerjakan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)
Namun, hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan nama ayyamul bidh. Dari Ibnu Abbas ra., beliau berkata:
“Rasulullah saw. biasa berpuasa pada ayyamul bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An-Nasa’i no. 2345, hasan)
Dan dari Abu Dzar ra., Rasulullah saw. bersabda padanya:
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. At-Tirmidzi no. 761, dan An-Nasa’i no. 2424, Hasan).
3. Puasa Daud
Caranya ialah sehari berpuasa dan sehari tidak. Sabda Rasulullah saw.,
“Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Daud. Salat yang paling disukai Allah adalah salat Nabi Daud. Beliau saat tidur separuh malam, bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420, dan Muslim no. 1159).
Terkait fadhilahnya, disebutkan dalam hadis berikut:
Dari Adam dari Sya’bah dari Habib bin Abi Tsabit:
“Aku mendegar dari Abdullah bin Amr bin 'Ash berkata, ”Aku memberitahu Rasulullah saw., aku mengatakan, ’Demi Allah, aku akan puasa sepanjang siang dan salat sepanjang malam seumur hidupku.’ Maka Rasulullah berkata kepadanya,’ Apakah kamu yang mengatakan, Demi Allah aku akan berpuasa sepanjang siang dan salat sepanjang malam seumur hidupku? Aku mengatakan, ’Sungguh aku yang mengatakannya.’ Beliau bersabda, ’Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup untuk itu maka berpuasalah dan berbukalah, salat malamlah dan tidurlah. Berpuasalah tiga hari dalam sebulan, sesungguhnya suatu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang sepertinya dan hal itu seperti berpuasa sepanjang masa.’ Aku mengatakan, ’Sesungguhnya aku sanggup melakukan yang lebih dari itu wahai Rasulullah.’ Beliau saw. pula bersabda, ’Berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.’ Aku mengatakan, ’Sesungguhnya aku sanggup melakukan yang lebih dari itu.’ Beliau bersabda, ’Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Ini adalah puasa Daud dan puasa ini yang paling baik.’ Aku mengatakan, ’Sesungguhnya aku sanggup melakukan yang lebih dari itu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ’Tidak ada yang lebih utama darinya.” (HR. Bukhari no. 1878)
4. Puasa di Bulan Sya’ban
'Aisyah ra. mengatakan:
“Rasulullah saw. biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi, aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1833, dan Muslim no. 1956)
Terkait hadis tentang puasa nisfu Sya'ban, disebutkan dalam kitab Majmu'ah Maulid Diba'iyah terkait niat puasa nisfu Sya'ban, berikut artinya: “Saya niat puasa nisfu Sya’ban sunnah karena Allah ta’ala.”
5. Puasa Enam di Bulan Syawal
Nabi saw. bersabda,
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
6. Puasa di Awal Dzulhijjah
Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: ‘Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi saw., menjawab: “Tidak pula di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At-Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, sahih)
Keutamaan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan amalan saleh lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan pada awal bulan Dzulhijjah adalah berpuasa.
Dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, beberapa istri Nabi saw., mengatakan:
“Rasulullah saw. biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari tiap bulannya ....” (HR. Abu Dawud no. 2437, sahih)
7. Puasa Arafah
Puasa ini dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Abu Qatadah Al-Anshary berkata, artinya:
“Nabi saw. ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arafah. Beliau menjawab, 'Puasa ‘Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.' Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ‘Asyura. Beliau menjawab, 'Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.'” (HR. Muslim no. 1162)
Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa tersebut. Dari Ibnu Abbas ra., beliau berkata:
“Nabi saw. tidak berpuasa ketika di ‘Arafah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 750, hasan sahih)
8. Puasa Asyura
Nabi saw. bersabda,
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram). Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163)
An-Nawawi menjelaskan, “Hadis ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”
Puasa Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram. Namun, Nabi saw. bertekad di akhir hayatnya agar melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa di hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya, untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.
Ibnu Abbas ra. berkata, ketika Nabi saw. melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata:
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau mengatakan: 'Apabila tiba tahun depan-in syaa Allah (jika Allah menghendaki)-kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.' Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi saw. sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)
Demikianlah puasa-puasa sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah saw. pada umat Muslim sampai sekarang. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lamu bishawab.
Komentar
Posting Komentar